»
»
»AKu Putus Asa

AKu Putus Asa

“Tidak usah Bu, jangan repot-repot,” kataku.”Sudahlah, tidak apa-apa sembako ini untuk kamu dan keluargamu,” kata Bu Farah.”Yasudah terimakasih banyak ya bu!”. “Iya, sama-sama,” jawabnya.
Bu Farah adalah tetanggaku, dia perempuan yang sangat baik, ramah, selalu membantu saudara dan tetangganya yang tidak mampu dan juga dia selalu sholat lima waktu di masjid.

Suatu hari saat ibu-ibu PKK mengadakan rapat untuk membahas perbaikan jalan di kampong kami. Sebagai ketua organisasi PKK, Bu Farah membuat anggota PKK yang lain sedikit jengkel, karena Bu Farah telat dating selama berjam-jam.Saat Bu Farh datang rasa jengkel anggota PKK yang lain itu pun hilang, karena Bu Farah datang dengan wajah pucat dan berkeringat deras. “Ada apa Bu? Kok wajahnya pucat sekali, ibu sakit?” Tanya Bu Rinda(salah satu anggota PKK). Ibu Farah hanya menggelengkan kepalanya, dan ia menyerahkan uang warga yang dititipkan padanya untuk perbaikan jalan pada Bu Rinda. Pada rapat kali ini Bu Farah hanya diam dan banyak melamun.
1 bulan kemudian….
          Saat aku berjalan-jalan menuju took di seberang jalan, aku melihat di depan rumah Bu Farah ada 2 laki-laki yang bertubuh besar dan penampilan yang seperti preman membentak-bentak Bu Farah yang sedang menangis, saat itu Pak Adi(suami Bu Farah) dan Walid (anaknya) sedang tidak ada di rumah. Aku ingin membantunya tapi 2 preman itu sudah pergi dan Bu Farah sudah masuk dan menutup pintu rumahnya.Aku bingung apa yang terjadi padanya.
Kejadian itu bukan hanya sekali kulihat, bahkan setiap minggu aku melihatnya. Hari ini ibuku membuat kue yang cukup banyak, lalu aku disuruh ibuku untuk mengantarkannya ke rumah tetangga kami.
Saat aku di rumah Bu Farah,
         Tok…tok…tok. “Assalamu’alaikum, Bu Farah!”.Tak ada yang menjawab dari dalam rumahnya meskipun aku telah mengucapkan salam berkali-kali, tapi pintu rumah Bu Farah terbuka ini jarang sekali terjadi malahan mungkin tidak pernah terjadi. Aku ingat, dulu Bu Farah mengatakan kepadaku, seandainya pintu rumahnya terbuka tapi tidak ada yang menjawab salam dari rumahnya aku disuruh untuk masuk. Karena aku sangat penasaran aku masuk ke dalam rumahnya. “Bu Farah… Bu Farah…!”. Sepertinya tidak ada orang disini. “Innalillahi Wa’inailaihi Roji’un, tolong… tolong…”.Lalu sekerumunan warga datang ke rumah Bu Farah. Aku sangat terkejut melihat Bu Farah tergeletak di lantai dapur rumahnya dengan mulut yang berbusa, Bu Farah meninggal ia bunuh diri dengan meminum obat nyamuk. Disebelah mayat Bu Farah terdapat sepucuk surat dari Bu Farah. Dan suaminya pun baru tahu Bu Farah bunuh diri karena ia terlilithutang senilai Rp 300.000 juta pada renteneir, karena saat ia membawa uang titipan ibu-ibu PKK saat itu, uang itu dirampok.
          Esok harinya Pak Adi dan Walid keluar dari rumah. Mereka terlihat sangat lesu dan matanya merah. “Sudah Pak, yang sabar jangan menangis terus lihat mata Bapak merah sekali dan Bapak terlihat sangat lesu!” kata warga setempat pada Pak Adi. “Bukan pak, badan saya lesu dan mata saya merah bukan karena saya menangisi kematian istri saya terus, sebagai seorang imam keluarga saya harus tabah dan kuat. Saya seperti ini karena arwah istri saya terus menangis tengah malam tadi dia duduk di tempat tidur yang akan saya tiduri dengan anak saya. Saya bertanya kepadanya mengapa dia bunuh diri, seandainya ia mau menceritakan pada saya, kita kan nanti bisa mengatasinya bersama, tapi dia hanya menangis dan bilang sakit… sakit… istri saya menangis dan merintih seperti itu sampai datangnya waktu subuh, saya dan Walid tidak bisa tidur, kami stress sekali.” Jawab Pak Adi.
Dan kejadian itu terus berlangsung selama 40 hari berturut-turut sejak hari kematian Bu Farah.
Bantu kami menyebarkan artikel diatas dengan menekan tombol LIKE / Tweet / Plus 1. Terima kasih
"AKu Putus Asa " was posted by: Kumpulan Puisi-Puisi Menarik blogs, under category and permalinks http://toppuisi.blogspot.com/2013/09/aku-putus-asa.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , Kamis, September 19, 2013.

Comments :