100100 Voting: 999,879,658

Selamat Jalan Teman

Tak ada lagi sahabat
Musibah itu telah menyabar
Segelintir petir bersambut kilat
Hangus sudah tubuhmu terbakar

Kesedihan berantai kata
Terucapkan rasa cinta
Pada gadis belia
Teman semasa muda

Sendiri menanti
Elok rupa bidadari
Jaman silih berganti
Kamu masih di hati

Sunyi senyap beratap
Dinding kamar ku pandang
Namapak kusam tak sedap
Ku tengok tanah lapang
Terbang burung alap-alap
Mencari makan dalam tenang

Puncak ranum telah hilang
Di keheningan alam
Dewi malam benderang
Damai nian terasa mendalam

Jam dinding terus berdentang
Gelap malam berganti petang
Berbenah diri tamu akan datang
Usai muncul si raja siang
Di tengah pematang
Tempat ku bergadang
Dengan kawan di seberang

Selamat jalan duhai teman
Tubuh ringan di pemakaman
Waktu singkat tubuhmu mangkat
Di bawah tanah tubuh tersekat
Sehabis aku shalat
Engkau ku doakan
Sampai nanti kita berdekatan
Liang kuburku di samping kawan

(Roil Jiwang Muhtadin : Jakarta, 17 Juni 2009)
Sumber: www.revolusisenja.indosastra.com
Read More..
Bantu kami menyebarkan artikel diatas dengan menekan tombol LIKE / Tweet / Plus 1. Terima kasih
"Selamat Jalan Teman" was posted by: Kumpulan Puisi-Puisi Menarik blogs, under category Puisi Persahabatan and permalinks http://toppuisi.blogspot.com/2010/12/selamat-jalan-teman.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , Selasa, Desember 07, 2010.

Untuk Dirinya

Malam itu, 28 November yang kelam
Terbujur kaku pikirku pada sinar tembaga redup
Lepas segala sadar pada renungan tentang hidup
Dingin, dingin dan beku dadaku
Rasa rindu menyelinap jauh dan tajam
Sekerjap kulihat dia
Renung dan diam
Mataku tersengat
Kususul wajahnya, jauh di belakangku
Sesenggukan sepi menyergap hatiku
Ia telah datang, hadir di depan mataku
Dengan wajahnya yang teduh
Cantik laksana edelweis yang berembun saat pagi
Ia bagaikan setiap rintik juhan yang memberika kehidupan
Senyum, sunggingan sederhana bersinar
Menyimpan sejuta makna dan debar dalam diriku
Ia cantik, dan tak pernah secantik itu
Ia anggun, saat suaranya melemahkan nadiku
Ia memanggilku, kakak, sama seperti saat dulu
Dapatkah ia merasakan?
Senyum getirku,
Menunggu akan kehadirannya,
Saat rasa rindu mendesak mimpiku tuk terbangun
Saat September memanggilku untuk bercanda denganmu
Saat malam menjadi penghubung kita
Tahukah dia, bahwa aku merindukan tatap teduhnya?
Bahwa aku rindu untuk mengolok hidung kecilnya?
Sebuah topeng utnuk mengucapkan
Betapa sempurnanya dia bagiku??

Ditulis oleh: Galih Dwika Putra
Read More..
Bantu kami menyebarkan artikel diatas dengan menekan tombol LIKE / Tweet / Plus 1. Terima kasih
"Untuk Dirinya" was posted by: Kumpulan Puisi-Puisi Menarik blogs, under category Puisi CintaSyair Cinta and permalinks http://toppuisi.blogspot.com/2010/12/untuk-dirinya.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , Selasa, Desember 07, 2010.